Hi, guest ! welcome to Radio Suara Kudus. | About Us | Contact | Register | Sign In

Senin, 09 Mei 2011

Menilai Siswa, Tak Cukup Hanya Tes

JAKARTA, KOMPAS.com - Sampai saat ini assessment belum berjalan secara optimal di dunia pendidikan. Assessment atau penilaian terhadap siswa seharusnya digunakan untuk memberikan dukungan dan membantu siswa yang kesulitan belajar.Demikian diungkapkan pakar pendidikan Itje Chodidjah di Jakarta, Senin (9/5/2011). Ia mengatakan, salah satu penyebabnya karena dunia pendidikan Indonesia saat ini masih berpatokan, bahwa keberhasilan siswa hanya ditentukan dengan ujian tertulis. Padahal, untuk mengetahui kemampuan dan permasalahan siswa dalam belajar harus dipraktikkan dalam assessment di sepanjang masa sekolah, bukan di akhir masa sekolah.

"Nilai yang dicapai dalam testing itu hanya sekedar angka 1 sampai 100. Namun, itu tidak merepresentasikan kemampuan yang dicapai siswa," ujar Itje kepada Kompas.com.
Itje mencontohkan dalam pelajaran bahasa, misalnya. Menurutnya, kemampuan orang berbahasa harus dilihat dari beberapa proses, seperti ketika siswa menulis, membuat karangan kecil, lalu beberapa kali siswa mengubah konsep karangannya.

Hal tersebut dilakukan agar kemampuan siswa dapat terpantau secara bertahap. Itje pun mencontohkan seorang siswa yang mendapatkan nilai 75 dalam ujian tertulis dengan tipe pilihan ganda.
"Siapa yang mampu menilai kemampuan anak tersebut. Apakah anak itu hanya dapat nilai 75 saja, atau dia memang punya kepandaian khusus. Kalau kita lihat saat ini, tidak banyak siswa lulusan SMA yang bisa berbahasa Inggris lancar, kalau dia tidak ikut kursus," jelas Itje.
Selain itu, Itje menambahkan, kurikulum juga dapat menjadi salah satu penyebab. Ia menilai, kurikulum saat ini juga perlu dibenahi dalam tata pelaksanaannya di lapangan agar tujuan dari assessment menjadi jelas.
Tata pelaksanaan di lapangan, lanjut Itje, misalnya, ketika pemerintah mensosialisasikan kurikulum terhadap guru-guru di berbagai daerah. Ia menilai, sosialisasi kurikulum pada 2006 lalu masih terdapat banyak kekurangan. Salah satunya adalah pelaksanaan yang sporadis, sehingga ada guru yang tahu tentang kurikulum tersebut, namun, tak sedikit yang angkat bahu.

"Sporadis di sini dalam arti, misalnya satu kabupaten dipanggil dua sampai tiga guru dalam sosialisasi tersebut. Namun, bagaimana dua atau tiga guru itu bisa menangani satu kabupaten? Tidak mungkin. Nah, seharusnya dapat dilakukan penataan, misalnya dengan klaster-klaster dalam sosialisasinya," kata Itje.

Terus didengungkan 

Itje mengatakan, saat ini assessment harus terus didengungkan. Hal itu agar proses pembelajaran itu tidak lagi dalam bentuk tes-tes tertulis untuk mengukur kemampuan siswa.
Para guru juga perlu diberi pemahaman dan pelatihan agar pelaksanaan assessment menjadi jelas. Pasalnya, menurut Itje, sebesar apapun pemerintah ingin menjalankan assessment, jika guru-guru tidak memiliki pemahaman yang baik, proses tersebut akan menjadi sia-sia.
"Paradigma guru juga perlu diubah. Karena biasanya saat ini guru tidak sreg kalau tidak ada testing," tutup Itje.
Share this article now on :

Posting Komentar

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))